Lelaki dan Bola Kaca

December 31st, 2007 by nadiahabidin

Lelaki di batas mega.
Bola kaca di tangan kanannya.
Rengkuh erat
tak kuasa meregang
Takut serpih
dalam kehati-hatian.

Sungguh tak sadar ia
Ini bola kaca istimewa.
Meski dibanting
diguncang,
dilempar,
kan kuat ia
sekuat tembaga…

Tetapi…
Bola kaca perlu simbah cahaya
agar ia bisa perlihatkan pelangi
kepada lelaki.

Maka bola kaca menanti

Dan, Hei! Lihatlah!

Jari lelaki perlahan membuka
1…2…3…
Sejuta pijar sekejap mengangkasa
Kuning, merah, biru, jingga…

Lelaki sulit mengerti.
Belum pernah ia melihatnya.
Indah, tetapi apakah dian itu?

Bola kaca berkerdip jenaka.

Aha!
Sebuah rahasia!

Bola kaca berkata padanya,
"Tuan, milikilah aku.
Kan kujawab tanyamu kemudian"

Lelaki bisu,
tak tahu harus berbuat apa.

Ia mulai sayang pada bola kaca,
tapi bingung menyimpannya.

Bola kaca begitu ingin dimiliki,
tapi semua bergantung tuannya.

Sebulan, dua bulan,
berbulan-bulan berlalu.

Lelaki masih membisu
dengan bola kaca di tangan.

Lalu, ia menghela napas panjang
Menatap bola kaca dengan pedih,
sebelum menaruhnya di atas pelataran.

"Maaf," katanya,
"biar kau simpan rahasia itu.
Aku tak sanggup menjagamu
karena bola kaca terlalu rapuh
untuk lelaki sederhana seperti aku"

Bola kaca menitikkan kristal bening
Lelaki perlahan membalik
dan melangkah menuju kesemuan.

Bola kaca tahu.
Setelah ratusan kali ia kembali,
kali ini ia takkan datang lagi.

Tidak kali ini,
setelah sekian kali mencoba.

Dan benarlah ia…

(Nadiah Abidin, 30 Desember 2007, pukul 8:51 AM, di rumah)

Siluet Kristal

December 31st, 2007 by nadiahabidin

Jernih air
retas dalam liuk relung
mengalir
bermimpi
menguak sebias biru

Kelam
sekelam lautan
permukaan bergelombang
ayunkan mimpi
lantakkan lamun
nan perlahan limbung
lalu tenggelam

Jauh
kian jauh
jernih air
berubah menghitam
remukkan karat
sebelum sirna

Itulah seluit kristal
semula cantik
dipuja
disuit
dijentik
sebelum bosan
membuat cantik
menjadi tua

Dan kristal itu
terus berayun turun
turun
turun
turun
sampai ke bawah
yang tak berdasar

Takkan ada lagi yang melihatnya
Kristal dari ada
menjadi tiada

Tak lama
takkan ada yang mengingatnya
karena kristal
dari ada
tiada…

(Nadiah Abidin, 31 Desember 2007, pukul 11:35 AM, di rumah)

Selubung Hitam

December 31st, 2007 by nadiahabidin

Tak ada reaksi
Dia tetap bisu
sebisu malam

Entah di mana dia
Mungkin telah pergi
entah ke mana

Hatinya berselubung hitam
Memusing dalam
putaran realita

(Nadiah Abidin, 31 Desember 2007, pukul 11:49 AM, di rumah)

Cinta Palsu

December 31st, 2007 by nadiahabidin

Jangan percaya kata cinta
cinta itu palsu
cinta itu munafik

Saat cinta berkedok cinta
dia bukanlah cinta

Karena cinta tak bisa diurai kata
cinta adalah peduli
cinta adalah sayang
cinta adalah tindak
cinta adalah hadir
meski fisik tak kasat mata

Jangan bilang cinta
bukanlah cinta jika sekadar umbar kata

Cintailah cinta
jika memang cinta yang ingin kau beri

Tunjukkanlah cinta
bukan dengan kata
tetapi dengan ada!

Kau mengerti?

(Nadiah Abidin, 31 Desember 2007, pukul 11:40 AM, di rumah)

Warna Hati

December 31st, 2007 by nadiahabidin

Tuhan memberiku HATI
untuk merasa apa yang kurasa

Rasa ini…
sungguh ganjil
entah apa namanya

Kutatap kala
ada semburat jingga
berlapis kuning dan merah di sana
Mungkinkah
itu warna HATI?

(Nadiah Abidin, tanggal 25 Desember 2007, pukul 7:39, di rumah)

Pencuri Embun

December 31st, 2007 by nadiahabidin

Kedua ujung bibir
perlahan tertarik
membentuk oval mini
separuh lembayung
bulan sabit

Aku tersenyum
tersenyum membayangkan
setitik embun
menetes ke pelupuk

Tapi embun
berubah haluan
Ia bergoyang tertiup angin
sebelum jatuh
menitik di pelataran.

Tes!
Bunyinya memekakkan

Aku ternganga…

Tidakkah embun tahu
aku merona
menunggu jelangnya?

Lalu hap!

Percuma bersiap
sisa tetes embun
ditangkap pencuri licik

Si pencuri luput dari pandang
dengan gesit menangkup
sisa tetes embun terakhir.

Tinggal aku yang termangu
menatap kegagalan

Embun hilang
senyum pun hilang

(Nadiah Abidin, 31 Desember 2007, 6:48 PM, di rumah)

Mata Berkabut

December 7th, 2007 by nadiahabidin

Ada sesuatu yang salah.
Benar-benar salah dengan mataku.
Sebuah kabut tipis membuat penglihatanku terganggu.
Aku diliputi takut.
Mungkinkah ini pertanda kebutaan telah dekat?

Kesempurnaan indera berkah Allah semata.
Secepat Dia memberinya kepada kita,
secepat itu pula Dia dapat merenggutnya.

Aku hanya bisa berdoa
bahwa kabut ini akan segera hilang
karena kumasih ingin melihat dunia
dan berbuat sesuatu
sesuai penglihatan mata,
bukan sekadar penglihatan hati,
yang kadang salah memberi arti.

(Nadiah Abidin, 10:43 AM, di rumah)

Menyerah

August 9th, 2007 by nadiahabidin

Hari ini aku memutuskan untuk menyerah.

Aku kalah.

Ya, semestinya aku tidak memupus harap

karena Allah Maha Adil.

Tapi sungguh,

aku tak tahu lagi.

Aku menyerah.

Kuputuskan tak mencari cinta lagi.

Biarlah cinta mencariku

jika masih berkenan.

Jika tidak,

biarlah kusendiri

dalam sepi.

(Nadiah Abidin, tanggal 9 Agustus 2007, pukul 17:59)

Menghalau Benci

August 5th, 2007 by nadiahabidin

Kutabur bunga di atas pusaramu

Tanpa sadar baru kutahu

Bahwa kau cinta pertama

Ataukah benci pertama?

Saat kudengar kematianmu

Hatiku tersentak

Itukah alasan kau tak membalas suratku?

Ataukah surat itu alasan

kepergianmu?

Tak bisa kureka hari

Karena aku tak ingat lagi

Tapi aku memaafkanmu

Menguap rasa benci

Diredam peralihan zaman

Selamat tinggal, Teman

Tlah kau toreh luka

Luka yang teramat dalam

Tapi luka itu tlah mengering

Hanya tinggalkan gores tak terlihat

Meski kadang masih meradang

Kau tentu takkan pernah tahu

bahwa kau tlah ajari aku

bagaimana berempati

melepas dendam

Yang mengungkung hati

Hingga kutakut memulai

Hingga timbul ngeri merasa sakit

Yah,

Aku masih jauh dari sembuh

Sakitku masih nyata

Tapi semua kan berlalu

Pasti berlalu

Karena aku memaafkanmu

Menguap rasa benci

Diredam peralihan zaman

Terpicu kematian

(Nadiah Abidin, 6 Agustus 2007, pukul 13:04, mengenang seseorang, di Sekretariat Jurusan Ilmu Komunikasi Unisma)

Nasihat Kecil

July 14th, 2007 by nadiahabidin

Apa yang kamu lakukan jika kamu bertemu orang yang meremehkanmu, melecehkanmu, memakimu, sambil menuding wajahmu? Dan itu tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali dengan disaksikan orang lain?

Apakah kamu akan emosi dan meluapkan emosimu kepada orang itu?
Ataukah kamu akan mencari beragam alasan untuk melebih-lebihkan dirimu?
Ataukah kamu memilih diam seribu bahasa karena tak bisa berbicara lagi, saking kemarahan membuncah di hatimu?

Saat kamu bertemu dengan orang menyebalkan,
orang bodoh yang tak bisa mengerti dirimu,
jangan biarkan dia menguasai dirimu.
Saat kamu melampiaskan amarah secara frontal,
saat itu kamu sebetulnya kalah.
Kamu membiarkan nafsu emosi sesaat memenuhi akalmu
dan meluap bagai lahar dari gunung merapi yang tengah meledak.

Saranku sebaiknya ambil napas dalam-dalam,
tataplah mata orang itu dengan tenang,
tetaplah tersenyum dan bersikap biasa,
cermati seluruh perkataannya,
dan jika dia telah lelah dan berhenti berkata,
ucapkanlah:
"Terima kasih atas masukannya. Akan saya perhatikan",
lalu pergi tanpa terburu-buru,
bukan untuk menangis
atau mengadu kepada sahabat terdekatmu,
melainkan mencari solusi atau strategi terbaik
untuk membuktikan bahwa apapun yang dia sangka tentang dirimu
salah besar.

Karena sesungguhnya di dalam diri sebagian orang
terdapat watak yang kerdil,
yang justru karena mereka merasa terancam oleh kehadiranmu,
kecerdasanmu,
bakatmu,
menjadi kejam tiada terkira.

Mereka bisa berbuat apa saja untuk menjatuhkanmu
Padahal sesungguhnya saat mereka melakukan itu
mereka menjatuhkan diri mereka sendiri,
martabat mereka,
harga diri mereka,
karena orang yang berjiwa besar
takkan pernah memandang rendah kepada orang lain,
berkata kasar,
apalagi menindas sampai hatimu terasa sakit,
sesakit-sakitnya.

Ingatlah, bahwa dalam setiap langkahmu
kamu tak pernah sendirian.
Selalu ada yang menemani,
mendoakan,
mengingatkan.

Dan siapa lagilah dia
kalau bukan Tuhan?

Percayalah. Orang yang berbuat jahat padamu
kelak akan mendapatkan ganjaran sesuai perbuatannya
dan apa yang bisa kamu lakukan kini
adalah mendoakan kebaikan atas dirinya,
memohon kepada-Nya agar dijernihkan pikirannya,
dibukakan pintu maaf atas-Nya,
dan seiring itu kamu terus berusaha
untuk membuktikan diri d
dengan berprestasi,
dengan berpikir positif,
dengan menebar senyum,
dengan menyebut salam,
dengan bertindak apa adanya,
tanpa melebihkan atau mengurangkan apa yang ada.

Ini hanya nasihat kecil dariku. Mudah-mudahan bermanfaat.
Karena bagiku filosofi ini telah banyak membantuku
melewati masa-masa berat
di saat aku nyaris merasa kehilangan pegangan
dan itu membuatku dapat tetap tegar
di saat jari-jari menuding ke arahku
dan ucapan kasar bertubi-tubi menerpa.

Insya Allah, dengan demikian kamu akan merasa lebih baik dan perhatikan
betapa orang seperti itu sebetulnya perlu diulurkan tangan
diberi bantuan agar terlepas dari rasa pedih di hatinya.

(Nadiah Abidin, pukul 09:28, di Plasa Telkom, saat mengirimkan transkrip terjemahan pariwisata)